Kebahagiaan

Dua sejoli pasangan suami – isteri sejak masih menjadi calon mampelai telah terpatri keinginan dalam lubuk hatinya yang begitu kuat untuk meraih keharmonisan dalam membina mahligai tangga. Ini merupakan kodrat dasar manusia, bahwa setiap pribadi ingin mendapatkan kenyamanan dan kebahagian jika bersama orang – orang yang ada dilingkungannya, terlebih lagi ketika berada disamping orang yang disayangi dan dicintainya.

Adapun yang menjadi pertanyaan apa indikasi yang menunjukan seseorang itu bahagia disamping pasangan hidupnya ?. Jawaban atas pertanyaan tersebut sangatlah penting agar memiliki standar yang tepat dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Diantara indikasi yang menunjukan pasangan bahagia, adalah :

  1. Perhatian

Dua insan yang yang membina mahligai rumah tangga, dimana antara satu dan lainnya pasti ingin mendapatkan perhatian yang selayaknya baik dikala senang maupun dikala susah. Perhatian yang diberikan oleh masing – masing pihak tentu tidak hanya berorientasi pada materi semata tetapi lebih kerena kasih sayang dan cinta kasih yang terbina di dalam jiwa. Perhatian yang tulus akan terlihat dimana sang isteri atau suami memiliki pengertian yang tampak mengalir begitu saja dalam sikap dan prilaku sehari – hari. Antara satu dan lainnya tidak saling memaksakan kehendak, tidak melakukan sesuatu yang dapat merendahkan pasangan, tidak mempermalukan, tidak saling menghina, tidak membiarkan sendiri dalam kesedihan, bersama – sama mencari solusinya jika ada masalah serta selalu menghibur agar pasangan merasa bahagia.

2.  Terpenuhinya kebutuhan

Sudah menjadi kesadaran kolektif, bahwa masing – masing pasangan hidup memiliki kebutuhannya masing – masing, baik berupa kebutuhan materi maupun non materi. dimana  kebutuhan – kebutuhan tersebut ingin terpenuhi secara layak.

Ditinjau dari nominal atau jumlahnya, maka kebutuhan yang berupa materi adalah sangat relatif bagi setiap orang. Kebutuhan yang berupa materi itu memang penting dalam rangka menunjang kebutuhan – kebutuhan primernya, yaitu terutama, yang meliputi sandang, pangan dan papan. Apabila kebutuhan berupa materi itu telah dapat terpenuhi secara baik, maka tentu itu merupakan harapan setiap rumah tangga. Namun jika kurang mencukupi, maka biasanya sangat diperlukan adanya toleran antara satu dan lainnya. Materi merupakan salah satu alat untuk menggapai keharmonisan rumah tangga, namun materi bukanlah hal yang utama untuk menentukan sebuah rumah tangga itu harmonis. Materi yang berlimpah tidak menjamin sebuah rumah tangga akan harmonis dan bahagia, sekalipun apabila kekurangan dalam hal materi juga tidak mustahil akan menyebabkan menderita.

Selain kebutuhan materi, maka kebutuhan in materi juga diharapkan dapat terpenuhi bagi masing – masing dari kedua sejoli dalam menajani rumah tangganya. Jika kebutuhan in-materi tidak dapat terpenuhi secara wajar, maka nominal materi bisa jadi tidak memiliki nilai untuk meraih keharmonisan dan kebahagiaan keluarga. Kebutuhan in materi, paling tidak meliputi : kepercayaan antara satu sama lain dari keduanya, kasih sayang serta kejujuran. Kepercayaan, kejujuran dan kasih sayang  tidak dapat diukur dengan nominal materi, karena itu sangatlah diperlukan kehati – hatian bagi pasangan suami – isteri dalam menjani hidup yang terkadang tidak sedikit tantangan serta rintangan yang harus dilalui.

Apibila kepercayaan, kejujuran serta kasih sayang dapat terpenuhi dengan baik, maka kekurangan dalam hal apapun lainnya akan saling membantu untuk menutupinya. Namun jika kepercayaan, kejujuran dan kasih sayang telah hilang, maka sangat rentan hilangnya akan pupusnya keharmonisan dan kebahagiaan, bahkan tidak mustahil dimana rumah tangga akan menjadi rusak.

3. Memiliki kesamaan pada orientasi religius

Agama merupakan pondasi penting bagi setiap orang dalam menjalankan hidupnya. Karena itu apabila pasangan suami isteri dapat menjadikan ridho Allah dalam membina rumah tangganya, maka kedua mereka telah memiliki standar dasar yang sangat kuat untuk menumbuhkan keharmonisan dan dan kebahagiaan. Dalam membina rumah tangga, bagi suami isteri yang sama – sama berorientasi pada ridho Allah, maka akan melahirkan pola sikap yang potif dalam berprilaku, berikhtiar dan berdoa pada stiap aktifitas mereka sehari – hari, termasuk dalam hubungan antara suami isteri.

Memang tidak sesederha sebagaimana difikirkan, bahwa di mana dalam praktek sehari – hari agar selalu berorientasi ridho Allah. Tantangan dan rintangan duniawi yang demikian berat, maka tentu pasangan suami isteri diperlukan usaha yang sungguh – sungguh untuk tetap berada di jalan Allah dengan banyak menahan diri dari godaan – godaan, emosional dan egoisme masing – masing. Namun seberat apapun rintangan dan tantangan yang harus dihadapi, maka apabila ikhlash menjalaninya, maka pertolongan dan hidayah Allah akan selalu menyertai.

Keharmonisan dalam membina mahligai rumah tangga dapat diartikan suatu keadaan yang saling percaya antara satu sama lainnya, saling memperhatikan, curahan kasih sayang yang terus menerus mengalir dari jiwa dengan selalu mengharapkan ridho Allah subhanahu wata’ala.

Wallahu alam bissawab

  • Penulis : Abi Rayyan

  • Apabila terdapat kekeliruan /atau melanggar hak intelektual, maka akan segera kami hentikan publikasikan artikel tersebut. Adapun konfirmasi dapat menghubungi kami melului : 082221897286
  • Materi pada artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

 

Mau sharing silahkan klik disini

Rekanan Kantor Hukum

http://www.lawfirm.or.id

 

 

Share

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *