Makna ketaqwaan

Dalam melakukan sesuatu tentu memiliki target yang ingin dicapai termasuk dalam melaksanakan ibadah berpuasa bagi orang – orang yang beriman juga memiliki target yang harus dicapai yaitu menjadi insan yang bertaqwa. Sebagaimana perintah berpuasa yang terdapat dalam qur anul karim, yaitu :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Taqwa berasal dari kosa kata waqa-yaqi-wiqayah yang arti harfiyahnya adalah  memelihara diri, melindungi diri, menjaga diri.  Sedangkan secara ma’nawi dapat diartikan memelihara diri dalam menjalankan hidup agar sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul-Nya dengan melakukan segala peintah dan meninggalkan larangan – larangan-Nya. Dan Arti lain dari taqwa adalah istitsalul awamir waj tinabun nawahi

Lalu yang menjadi pertanyaan bagaimana seseorang mengetahui bahwa target sebagaimana dimaksud itu telah dicapai ?. Secara hakikat tidak seorangpun dapat memastikan bahwa dirinya telah menjadi insan yang bertaqwa sekalipun telah melakukan ibadah berpuasa berulang kali bulan suci ramadhan.

Untuk mendeteksi apakah seseorang sudah mengarahkan kepada target yang hendak dicapai dalam berpuasa, maka dapat dilihat dari berberpa indikatornya, diantaranya surat albaqorah dimulai ayat 2, yaitu :

ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ

Inilah alkitab yang tidak ada keraguan segala isinya yang merupakan petunjuk bagi orang – orang yang bertaqwa.

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ

Orang – orang yang bertaqwa adalah orang – orang yang beriman kepada yang goib, yang – orang yang mendirikan sholat, dan orang – orang yang sebahagian rizki yang kami berikan ( Allah berikan ) diinfakan di jalan Allah.

وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ

Dan mereka yang bertaqwa itu adalah mereka beriman kepada apa yang diwahyukan kepada-mu ( ya Muhammad ) dan juga percaya kepada al kitab kepada nabi nabi sebelum- mu ( ya Muhammad ), dan mereka itu yakin akan hari akhirat

أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَىٰ هُدً۬ى مِّن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Mereka yang bertaqwa itu menjalankan hidupnya sesuai petunjuk Tuhannya. Dan mereka adalah orang – orang yang mendapatkan kemenagan.

Indikator ketaqwaan didapatakan juga didapatkan dalam surat ali Imran, yaitu :

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٲتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡڪَـٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Orang – orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang menafkahkan [hartanya], baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

Dan ( orang – orang yang bertaqwa ) adalah orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri [1], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

وْلَـٰٓٮِٕكَ جَزَآؤُهُم مَّغۡفِرَةٌ۬ مِّن رَّبِّهِمۡ وَجَنَّـٰتٌ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡہَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَا‌ۚ وَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَـٰمِلِينَ

Dan ( orang – orang yang betaqwa ) adalah mereka itu yang mendapatkan balasan berupa ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Berdasarkan ayat – ayat quran di atas, maka indikakator ketaqwaan diantaranya adalah sebagai berikut, yaitu :

  1. Beriman kepada yang ghoib, yaitu kehidupan para malaikat, Jin, surge dan neraka
  2. Mendirikan sholat sesuai yang telah diperintahkan kepada setiap insan yang muslim
  3. Menginfaqkan sebahagian rizki dijalan Allah, seperti berzakat dan bershodaqah
  4. Beriman kepada Alquran dan kitab – kitab yang diwahyukan Allah sebelum nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
  5. Meyakini hari akhirat, yaitu hari pembalasan atas segala perbuatan baik dan perbuatan buruk yang dilakukan di dunia ini
  6. Menjalankan hidup sesuai petunjuk Allah subhanahu wata’ala
  7. Mendapatkan kemenangan dalam ridho Allah subhanahu wataala
  8. Membantu sesame baik dalam keadaan berkecukupan maupun dalam keadaan kekurangan ( membantu sesuai kemampuan )
  9. Menahan emosional
  10. Memaafkan sesame manusia
  11. Apabila terlanjur berbuat salah atau keburukan, maka segera menyadarinya yang diiringi memohon ampunan kepada Allah subhanahu wata’ala dan tidak lagi mengulangi perbuatan buruknya
  12. Orang – orang yang taqwa akan mendapatkan ampunan Allah subahanahu wata’ala serta akan dimasukan ke dalam surge

Inilah diantara indikasi orang – orang yang mencapai target ketaqwaan sebagaimana diharapkan dalam menjalankan ibadah berpuasa di bulan suci ramadha.

Setiap insan dapat mengevaluasi dirinya apakah indikator – indikator tersebut sudah melekat pada dirinya selama ini terutama setelah berpuasa dibulan ramadhan sebelumnya. Apabila masih ada kekurangan dari beberapa indikator di atas, maka tentu dapat diraih dengan berpuasa di bulan ramadhan 1349 Hijriah tahun ini. Untuk mencapai target ketaqwaan sebagaimana dimaksud sudah pasti dibutuhkan kesungguhan dan keikhlasan yang tinggi dalam melaksanakan ibadah berpuasa.

Berpuasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga akan tetapi menahan diri dari segala nafsu yang mendorong kepada perbuatan buruk. Baik keburukan secara bathin maupun keburukan secara dhohir. Maka tentu dapat diraih dengan berpuasa di bulan ramadhan. Untuk mencapai target ketaqwaan sebagaimana dimaksud sudah pasti dibutuhkan kesungguhan dan keikhlasan yang tinggi dalam melaksanakan ibadah berpuasa.

Berpuasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga akan tetapi menahan diri dari segala nafsu yang mendorong kepada perbuatan buruk. Baik keburukan secara bathin maupun keburukan secara dhohir.

Penulis : Abi Rayyan


  • Materi pada artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis
  • Apabila terdapat kekeliruan /atau melanggar hak intelektual, maka akan segera kami hentikan publikasi artikel tersebut
  • Informasi dan konfirmasi dapat menghubungi melului whatsApp : 082221897286

Mau sharing silahkan klik disini

Rekanan Kantor Hukum

http://www.lawfirm.or.id

Share

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *