Makna “Taqwa”

Segala sesuatu yang dilakukan tentu memiliki target yang ingin dicapai, demikian halnya bagi orang – orang beriman yang berpuasa di bulan suci ramadhan juga memiliki target yang hendaknya dicapai yaitu dapat dikatagorikan sebagai insan yang bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Selaras dengan firman Allah subhanahu wa’ala dalam qur anul karim, yaitu :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Artinya : Wahai orang – orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada umat – umat sebelumnya dengan tujuan hendaknya kalian menjadi orang – orang yang bertaqwa ( terpelihara ). Al baqarah. 183

Taqwa dalam bahasa arab berasal dari kosa kata Waq – Yaqi – Wiqayatan – taqwa yang berarti terpelihara. Adapun secara maknawi bahwa taqwa adalah seorang insan yang hidupnya terpelihara dari sesuatu yang membahayakan dirinya dari bahaya dunia dan bahaya kelak di hari akhirat.

Bahaya yang akan menimpa seseorang tentu saja disebabkan oleh suatu sikap dan prilaku diri seseorang atau prilaku dari lingkungannya yang keliru dan bertentangan dengan aturan yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Untuk itu dengan berpuasa di bulan suci ramadhan djaharapkan membentuk pribadi – pribadi yang sholeh – sholehah yang terpelihara dari sikap dan prilaku yang menyebabkan bahaya di dunia dan akhirat.

Orang – orang yang bertaqwa kepada Allah adalah orang – orang yang terpelihara dari Sikap dan prilaku yang mendatangkan bahaya, diantaranya adalah sebagai berikut, yaitu :

  1. Terpelihara dari sikap dan prilaku ingkar janji, baik itu janji kepada Allah dan juga janji dengan sesama manusia

Setiap insan telah menyatakan janjianya, bahwa mengakui Allah sebagai robnya ( Tuhannya ) sejaka dari azali. Sebagaimana dijelaskan dalam quran ;

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَأَشۡہَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡ‌ۖ قَالُواْ بَلَىٰ‌ۛ شَهِدۡنَآ‌ۛ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ إِنَّا ڪُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

Artinya : “Dan [ingatlah], ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul [Engkau Tuhan kami], kami menjadi saksi”. [Kami lakukan yang demikian itu] agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami [bani Adam] adalah orang-orang yang lengah terhadap ini [keesaan Tuhan]”,

Perjanjian seorang yang beriman mengakui Allah sebagai Tuhannya juga diungkapkan dalam pernyataan yang berbentuk mengucapkan dua kalimah syahadah, yaitu

اَشْهَدُاَنْالَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَاَثْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًا رَسٌؤلُ اللهِ

Artinya : “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya nabi Muhammad adalah rasul-Nya Allah”.

Perjanjian, bahwa Allah sebagai Tuhan bukan hanya sekedar ungkupan semata, akan tetapi meliputi pengakuan hati, lisan dan prilaku, ya’ni dimana manusia yang beriman menyembah, tunduk dan patuh serta ketergantungan hanya kepada Allah semata. Hal ini terungkap dalam firman Allah yang lain, yaitu :

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٦٢ (لَا شَرِيكَ لَهُ ۥ‌ۖ وَبِذَٲلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۟ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ (١٦٣ ( قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِى رَبًّ۬ا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَىۡءٍ۬‌ۚ وَلَا تَكۡسِبُ ڪُلُّ نَفۡسٍ إِلَّا عَلَيۡہَا‌ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ۬ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ‌ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ (١٦٤  (  وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَڪُمۡ خَلَـٰٓٮِٕفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ۬ دَرَجَـٰتٍ۬ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِى مَآ ءَاتَٮٰكُمۡ‌ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُ ۥ لَغَفُورٌ۬ رَّحِيمُۢ (١٦٥(

Artinya :“Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadat, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (162) tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri [kepada Allah]”. (163) Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain [3]. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”. (164) Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian [yang lain] beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (165)

Janji dengan Allah tentu saja sudah semestinya terpelihara dengan baik, karena kalau janji tersebut diingkari tentu akan menimbulkan bahaya baik didunia maupun kelak diyaumil akhirah.  Orang – orang yang bertaqwa adalah orang – orang yang terpelihara dari ingkar janji terutama janji kepada Allah rabbul izzati.

Selain terpelihara janji kepada Allah subhanahu wata’ala, juga orang – orang yang bertaqwa tentu akan selalu dapat menjaga  amanah atau janji yang dibuat dengan sesama manusia, baik itu janji yang tertulis maupun janji yang tidak tertulis.

Janji sasama manusia juga merupakan suatu kewajiban yang mesti dipenuhi, karena jika janji tersebut diingkari, maka akan mendatangkan bahaya baik di dunia maupun bahaya di yaumil akhirat.

Jika seseorang ingkar dari janji yang telah dibuat, maka akan sulit untuk kembali dipercayakan pada kali lainnya. Bahkan nama baiknya akan tercemar sampai keluarganya terkadang harus menanggung akibatnya. Jika didunia saja akibatnya demikian berat bila ingkar janji, hatta terlebih lagi azab dari Allah subhanahu wata’ala kelak diyaumil akhirat akibat dari ingkar janji.

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

Artinya: “Empat perkara bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika berseteru curang.“(HR. Imam Bukhari)

مَنْ أَخْفَرَ مُسْلِمًا ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ، لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلا عَدْلٌ .رواه البخاري،

Artinya : “Barangsiapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga dengan berpuasa akan dapat menjaga  setiap janji dan amanh dalam menjalankan hidup di alam dunia ini, sehingga terpelihara dari suatu keburukan dan bahaya yang tentu akan sangat berat untuk ditanggung oleh seorang manusia.

  1. Dengan berpuasa diharapkan terpelihara dari sifat kelalaian. Seorang yang beriman kepada Allah dan rasulnya diperlukan kehati – hatian dalam menjalankan kehidupan didunia ini. Semua sarana dan prasarana yang Allah anugerahkan semesti digunakan dengan sungguh – sungguh dijalan yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala. Manusia dan Jin tertimpa suatu keburukan dan azab Allah adalah salah satu penyebabnya karena lalai dalam mempergunakan anugerah dari Allah subhanahu wata’al. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qur anul karim, yaitu :

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ ڪَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ‌ۖ لَهُمۡ قُلُوبٌ۬ لَّا يَفۡقَهُونَ بِہَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٌ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ بِہَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٌ۬ لَّا يَسۡمَعُونَ بِہَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡغَـٰفِلُونَ

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami [ayat-ayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakannya untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah], dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakannya untuk mendengar [ayat-ayat Allah]. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

3. Terpelihara diri dan keluarga dari azab neraka

Hendaknya setiap diri dapat mejaga dirinya dan keluarga dari azab Allah subhanahu wata’ala. Karena itu merupakan peintah langsung kepada orang – orang yang beriman dari Allah rabbul izzati, dalam al quranul karim, yaitu :

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (٦(

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ( At tahrim : 6 )

Semoga puasa yang dijalankan khususnya 1439 H, tahun 2018 ini, dapat menjadikan diri sebagai orang – orang selalu terpelihara dari sikap dan prilaku tercela, diantara prilaku ingkar janji, lalai dalam kehidupan dan tidak memelihara diri dan keluarga dari azab Allah subahanu wata’ala,

Sebaliknya orang – orang yang berpuasa akan menjadi pribadi – pribadi yang sholeh, hidup dalam kejujuran, amanah, selalu dapat memenuhi janji – janjinya, sungguh – sungguh mempergunkan anugerah Allah dijalan yang benar serta menjaga diri dan keluarga dari azab neraka. Amin

Penulis : Abi Rayyan

Audio Dakwah

Mau sharing silahkan klik disini

Rekanan Kantor Hukum

http://www.lawfirm.or.id

 

Share

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *