Bahaya Ghibah

Salah satu bentuk prilaku yang  tidak terpuji menurut ajaran islam adalah perbuatan ghibah. Yang dimaksud dengan  ghibah adalah membicarakan /menyampaikan /menyebar luaskan aib yang terdapat pada diri seorang muslim. Baik aib tersebut terkait soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya.

Ghibah (غيبة) berasal dari kosa kata bahasa arab, yaitu ghaba, yaghibu (   , غاب , يغيب) makna mufrodatnya adalah tersembunyi, tidak terlihat, hilang, tidak hadir dan makna – makna sinonim lainnya.

Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam menjelaskan tentang ghibah itu dalam bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami namun mencakup segala aspek prilaku manusia yang tidak terpuji itu, sebagaimana sabda beliau :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Artinya : Bahwa sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam telah bersabda : “Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah?” Para shahabat menjawab,  “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda : “(Ghībah itu) adalah engkau mengatakan tentang saudaramu mengenai apa yang ia benci.” Dikatakan kepada beliau : “Apakah pendapatmu jika yang ada pada saudaraku sesuai apa yang saya katakan.” Beliau bersabda : “Jika yang ada padanya sesuai apa yang engkau katakan, maka itulah ghibah, dan jika tidak sesuai yang ada padanya, maka sungguh engkau telah mendustakannya.” (HR. Muslim).

Ghibah merupakan prilaku seseorang yang merugikan pihak lain secara orang perorangan dan masyarakat luas yang disebabkan tersebar luasnya kelemahan atau kekeliruan dengan cara yang tidak patut dan tidak sah. Penyebaran berupa aib seseorang /ataupun aib kelompok tertentu dengan cara penyampaikan secara lisan, tulisan, isyarat ataupun dengan menggunakan media elektronik adalah tergolong dalam katagori ghibah sebagai prilaku tidak mterpuji dan merugikan. Karena itu Allah subhanahu wa’ala melarang keras bagi orang – orang yang beriman melakukan perbuatan ghaibah tersebut. Firman Allah dalam Al qur anul karim, yaitu :

وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُل لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Artinya :Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya.” (QS. Al Hujurat :12)

Selaras dengan larangan Allah subhanahu wata’ala tentang ghibah tersebut, maka nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, menegasakan tentang prilaku buruk bergibah, yaitu :

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ اسْتِطَالَةَ الْمَرْءِ فِي عِرْضِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

Artinya : “Sesungguhnya termasuk dosa dari dosa-dosa besar adalah melanggar harga diri seorang muslim tanpa hak.” (HR. Abu Dawwud)

Setelah kita memahami secara singkat tentang ghibah, maka betapa pentingnya bagi orang – orang yang beriman menghindarkan dirinya dari prilaku ghibah yang merugikan tersebut.

Dalam rangka mencegah terjadinya prilaku ghibah dikalangan masyarakat, maka diperlukan adanya sinergitas antara masyarakat, pemerintah dan ulama secara konsiten.

Kalangan ulama sebagai Pihak yang dipandang mengerti tentang tuntunan Agama betapa pentingnya memberikan pemahan kepada masyarakat tentang pengertian ghabah, bahaya yang ditimbulkan dari prilaku ghibah serta ghibah adalah merupaka prilaku yang dilarang dalam ajaran Islam.

Peran ulama sangat penting dalam mencegah terjadinya ghibah dalam masyarakat, karena kedekatan antara ulama dengan masyarakat yang demikian eratnya. Dalam sosiologi agama ulama adalah panutan masyarakat muslim yang tidak terelakan. Kepercayaan masyarakat muslim kepada ulama selalu tinggi, karena ulama adalah merupakan pewaris para nabi yang menuntut umat ke jalan Allah subhanahu wata’ala.

Disamping peran para ulama, maka Pihak pemerintah sebagai regulator sebuah negara adalah merupkan suatu kewajiban melindingi rakyat dan negaranya dari bahaya prilaku ghibah.

Dalam menjalankan perundang – undangan yang berlaku, Pihak pemerintah diperlukan transparansi pada seluruh tahapan baik itu kegitan – kegiatan sosialisasi, pencegahan dan penindakannya. Dan yang paling penting untuk dipahami, bahwa hukum dan ketentuan perundang – undangan bukan bertujuan untuk kepentingan sesaat yang bersifat parsial, akan tetapi hendaknya memiliki orientasi jangka panjang demi kedamaian masyarakat dengan tanpa membeda – bedakan status sosial, agama, suku dan ras.

Pemerintah dan ulama tidak akan mungkin mencapai suatu keberhasilan dalam mencegah prilaku ghibah dalam masyarakat, kecuali masyarakat itu sendiri memiliki kesadaran akan betapa penting menghindari prilaku ghibah itu. Karena prilaku ghibah akan merugikan bangsa dan negara.

Apabila prilaku ghibah terjadi secara masif dalam sebuah masyarakat, maka tidak mustahil dimana bukan saja masyarakat akan resah, tetapi akan mengancam keuatuhan bangsa dan negara. Wallahu alam bissawab

Penulis : Abi Rayyan


  • Materi pada artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis
  • Apabila terdapat kekeliruan /atau melanggar hak intelektual, maka akan segera kami hentikan publikasi artikel tersebut
  • Informasi dan konfirmasi dapat menghubungi melului whatsApp : 082221897286

 

Share

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *