Pola Hidup Sederhana

.

Suatu keindahan yang terpuji dan nyaman dimana dalam Islam diajarkan hidup yang sederhana.  Lalu apa yang sesungguhnya yang dimaksud dengan hidup sederhana ? Secara bahasa bahwa hidup sederha lebih dikenal dengan istilah Qona’ah, ya’ni mencukupkan dan menerima apa – apa telah dimiliki tanpa kegelisahan dan keresahan sambil terus berikhtiar untuk mendapatkan limpahan rizki yang halal sesuai ketentuan Allah Azza wajalla.

وَلَاتَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلَى عُنُقِكَ وَلَاتَبْسُطْهَاكُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدُمَلُوْمًامَحْسُوْرًا

Artinya : “Dan janganlah kamu menjadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu menjulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. ( Q. S. Al-Isra’ ayat 29 )

Islam mengajarkan untuk hidup sederhana meliputi segala aspek kehidupan manusia, yaitu dalam menata kehidupan rumah tangga,  tertib dalam berbusana, pola sikap dan berperilaku, pergaulan, makan, minum dan juga segalanya pada lingkup  Sedentary Lifestyle.

Dalam mengelola kehidupan selalu memiliki dua pertanyaan penting, yaitu :

a. Apa yang dibutuhkan ? dan 

b. Apa yang diinginkan ?

Mari kita jawa satu persatu.

Pertama, Bahwa seorang muslim dituntun untuk memenuhi segala kebutuhan pribadi, keluarga, membantu orang – orang yang kurang mampu dan membiayai fi sabilillah. Adapun pendekatannya mecakupi kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder.  Sedang perbedaan standar kebutuhan antara satu orang dengan orang lainnya tentu berbeda – beda, ya’ni disesuaikan kondisi dan tingkat kebutuhan hidup seseorang.

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Artinya : “Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raf, ayat : 31)

Firman Allah tersebut dipertegas dengan sabda nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, yaitu :

رَوَى اْلإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كُلُوْا، وَاشْرَبُوْا، وَتَصَدَّقُوْا، وَالْبَسُوْا، فِي غَيْرِ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ، إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَى عَبْدِهِ.

Artinya : “Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari jalur Amr ibn Syu’aib yang beliau riwayatkan dari bapaknya dan yang beliau riwayatkan pula dari kakeknya bahwa Rasulallah S.A.W. bersabda, “Hendaknya kalian makan, minum, bersedekah, dan berpakaian tanpa kesombongan dan tanpa berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah S.W.T. mencintai nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya terlihat.”

Firman Allah subhanahu wata’ala dan hadits nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam diatas, memberikan tuntunan, dimana setiap manusia boleh memenuhi segala kebutuhannya namun memiliki batas – batas yang patut dijaga agar kenyamanan dan ketentraman selalu terjaga.

Kedua, bahwa setiap manusia memiliki keinginan untuk memiliki sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan.  Sebagaimana Allah menjelaskan dalam Al quran,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٲتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَـٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَـٰمِ وَٱلۡحَرۡثِ‌ۗ ذَٲلِكَ مَتَـٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُ ۥ حُسۡنُ ٱلۡمَـَٔابِ

Artinya : “Dijadikan indah pada [pandangan] manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak [2] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik [surga]” . ( Q. S. Ali Imran, ayat 14 )

Keinginan – keinginan yang masih pada batas kewajaran, tentu dapat ditolerir selama keinginan tersebut tidak menjerumuskan manusia pada keburukan prilaku, terlebih lagi menentang hukum – hukum agama, hukum adat istiadat, hukum positif dan perundang – undangan yang berlaku.

Ada beberapa persoalan yang perlu disikapi serius pada pola hidup masyarakat di zaman sekarang, yaitu :

Pertama, Merebaknya kasus korupsi. Sebahagian manusia semakin terlihat kecenderungan pada  gaya hidup mewah dan boros yang dapat menimbulkan nafsu kerakusan terhadap harta benda yang, sehingga tidakm jarang kemewahan itu didapat dengan cara  yang menyimpang dari ajaran Agama, bahkan melawan hukum. Kebiasaan hidup bermewah – mewahan dan boros ( Glamor ), bila suatu ketika kebiasaannya itu tidak dapat terpenuhi, maka tidak ustahil orang tersebut akan melakukan apa saja untuk demi gengsi dan memuaskan nafsunya itu. Banyaknya orang terjerumus pada korupsi dan manipulasi  baik dikalangan pejabat negara maupun rakyat biasa.

Kedua, semakin meluasnya penggunaan narkoba, seks komersial, perselingkuhan, dan kasus – kasus asusial lainnya. Jika diamati secara seksama, diantara sebab – sebab meningkatnya kecenderungan memakai narkoba, seks komersial, perselingkuhan di kalangan masyarakat adalah kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap apa yang ada di depan mata. Walau sebahagian orang melakukan kerena tidak mampu mengendalikan dirinya  sebab lain tertentu.

Untuk mencegah pola hidup yang berlebih – lebihan, maka dapat dilakukan beberapa langkah startegis, diantaranya :

1. Memperkuat pemahaman tentang ajaran agama. Pemahaman ajaran agama mulai dari usia dini dan usia sekolah pada semua tingkatan, dari tingkatan PAUD sampai dengan perguruan tinggi. Pemerintah bertanggung jawab untuk menetapkan kurikulum pendidikan yang tepat dan memperbanyak pada tataran agama dan ahklak. Kekeliruan merumuskan kurikulum pendidikan merupakan awal dari kehancuran suatu masyarakat.

2.  Pola hidup dan pendidikan keluarga yang berbasis agama juga merupakan faktor penting dalam pengendalian diri setiap individu sebagai anggota masyarakat.

3. Keteladanan seorang pemimpin hidup sederhana merupakan faktor yang sangat krusial dalam menata psikilogi suatu bangsa

Selain 3 langkah penting tersebut diatas, tentu masih banyak yang perlu dikaji dan dilakukan untuk membiasakan masyarakat hidup sederhana.

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Ya Allah, cukupilah aku dengan rezeki halal-Mu agar terhindar dari yang Kau haramkan. Jadikanlah aku kaya karena karunia-Mu, bukan karena karunia selain-Mu.

(HR. At-Tirmidzi No. 3563 )

Publikasi artikel ini, atas dukungan ” Lembaga Donatur ” ▶Klik lihat

SUARA PEMBACA

Nama

Nomor WhatsApp

Informasi, silahkan tulis di bawah ini /atau melalui email : sakin_bina@yahoo.com

 
 

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *