Berpuasa dapat mencegah dari perbuatan tercela

.

Prilaku tercela ( Akhlak Madzmumah ) merupakan  segala bentuk prilaku yang bertentangan dengan nilai – nilai kemanusian, norma – norma hukum dan agama yang yang berlaku.

Dampak yang ditimbulkan dari prilaku tercela ( Akhlak Madzmumah  ) adalah selain akan merugikan bagi individu – individu yang terkait, juga akan merusak tatanan sosial, ekonomi, pembangunan, bahkan stabilitas keamanan suatu bangsa dan negara. Oleh karena itu agama Islam sangat melarang suatu prilaku tercela baik yang dilakukan oleh individu, kelompok – kelompok masyarakat maupun yang dilakukan secara terstruktur dan sistemik.

Prilaku tercela yang meliputi cara berfikir, sikap dan tindakan secara garis besar dapat digambarkan dari beberapa indikator, yaitu :

  1. Sikap egois yang ingin memaksakan kehendak sendiri, kelompok atau golongan tertentu kepada pihak lain dengan cara – cara yang bertentangan dengan nilai – nilai kemanusian, norma – norma hukum dan agama.
  2. Sifat dengki kepada pihak – pihak selain dirinya, baik yang terjadi dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sifat dengki tersebut membuat seseorang tidak senang atas kesuksesan /atau kemengan /atau keberhasilan yang dicapai oleh pihak lainnya.
  3. Sikap dusta (pembohong). Sifat /atau prilaku berbohong sangatlah berbahaya, karena selain akan merusak kepercayaan dalam membangun hubungan antar personal, juga dimana kebohongan tersebut berdampak pada buruknya kualitas hubungan sosial, politik, budaya dan pembangunan manusia seutuhnya.
  4. Sikap ujub. Adapun sikap ini biasanya memiliki persepsi keistimewaan terhadap diri sendiri, kelompok atau golongan yang berdapak merendahkan pihak – pihak lainnya. Sifat ujub jika tidak dapat dikontrol, maka tidak mustahil seseorang akan menolak norma – norma hukum dan agama. Sebab ujub bisa berubah menjadi takabbur.

Untuk menghindarkan diri dari prilaku tercela ( Akhlak Madzmumah ), Islam mengajarkan banyak cara, diantaranya dengan cara berpuasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدْ مِنَ النَّارِ

Artinya : “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil ‘Ash. Ini adalah hadits yang shahih]

Puasa yang dilaukan oleh seorang mukmin dapat mencegah diri yang bersangkutan dari berbagai macam perbuatan tercela.

Berpuasa akan akan menjadi penghalang ( Perisai ) dari prilaku tercela serta akibatnya, tentu apabila dalam menjalankan ibadh berpuasa mematuhi segala larangan – larangan, baik yang dapat membatalkan ibadah berpuasa maupun yang dapat merusak fahala berpuasa.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Artinya : “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misk. Orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini bagi Bukhari]

Bahkan Imam Ibnu Majah di dalam kitab Sunan-nya juga meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah yang menggambarkan akan sia-sianya puasa seseorang sebagaimana berikut

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعِ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهْر

“Artinya : Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apapun kecuali rasa lapar. Banyak orang yang beribadah di malam hari, namun yang didapatkannya hanyalah keletihan akibat tidak tidur malam” (HR. Ibnu Majah)

Islam mengajarkan umat manusia agar menghindarkan diri dari perbuatan tercela, juga terungkap dalam al quranul karim, surat alhujarat, ayat : 12

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا‌ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Secara syariat, puasa cukuplah menahan lapar, dahaga dan berhubungan badan mulai dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Meskipun dengan hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan tersebut puasa seseorang telah dianggap sah, namun jika tidak dibarengi dengan menahan diri dari perbuatan dan perkataan tercela maka puasa yang telah dijalani pun menjadi sia-sia. Sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah yang menginformasikan bahwa Rasulullah Saw. bersabda

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَل َبِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan zur, maka Allah tidak berkepentingan sedikitpun terhadap puasanya.” (HR. Al Bukhari).

Semoga setiap diri dapat menghindarkan dirinya dari prilaku tercela.

اَللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخْلَاقِ, وَالْأَعْمَالِ, وَالْأَهْوَاءِ, وَالْأَدْوَاء

Allahumma jannibnii munkarooti al akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa i wal adwaa’

Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah dari aku akhlak yang munkar, amal-amal yang munkar, hawa nafsu yang munkar dan penyakit-penyakit yang munkar.” [Hadis Riwayat Tirmidzi no 3591 ]

Publikasi artikel ini, atas dukungan ” Lembaga Donatur ” ▶Klik lihat

SUARA PEMBACA

Nama

Nomor WhatsApp

Informasi, silahkan tulis di bawah ini /atau melalui email : sakin_bina@yahoo.com

 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *