Memaknai sebuah musibah

.

Tidak ada seorang manusiapun yang menginginkan tertimpa musibah dalam bentu apapun juga baik itu musibah yang mengakibatkan kematian, kehilanagn anggota keluarga, harta dan bentuk – bentuk lainnya.

Lalu apa arti musibah itu sendiri ?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata musibah diartikan suatu peristwa yang menyedihkan tertimpa.

Adapun secara harfiayah, kata musibah (    مُصِيبَةٍ  ) berasal dari bahasa arab, yaitu yang berarti sesuatu yang menimpa yang berakibat suatu kerugian.

وَما أَصابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِما كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ

“Dan segala sesuatu yang menimpa kalian (berupa adzab dan bala’) adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian. Dan Allah banyak memaafkan kalian.” (QS. Asy-Syuura: 30)

Musibah memiliki konotasi suatu peristiwa yang terjadi disebabkan oleh suatu peristiwa lain sebelumnya.

Secara logika bahwa dimana suatu peristiwa tidak mungkin terjadi secara tiba – tiba tanpa ada proses yang berjalan secara bertahap akan menjadi rentetan suatu peristiwa sebab akibatnya.

Dalam pandangan islam Islam bahwa suatu musibah yang menimpa dalam kehidupan dunia ini, dapat dipandang dari beberapa sisi, diantaranya :

  1.  Sisi aqidah
  2.  Sisi akhlak
  3.  Syariah

Pertama bahwa musibah dipandang dari sisi aqidah adalah suatu musibah yang menimpa merupakan kehendak Allah subhanahu wata’ala. Dengan demikian maka hanya Allah saja yang mengetahui kenapa alasannya kenapa suatu musibah itu terjadi. Oleh karena itu manusia selayaknya selalu taqarrub ilallah, bermohon ampunan dan keselamatan dari Allah subhanahu wata’ala atas segala musibah serta bertawaqqal dengan sepenuh jiwa.

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ

[yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”.

Kedua, musibah dipandang dari sisi akhlak, bahwa setiap diri sangat penting memiliki kepribadian yang terpuji serta berprilaku yang memiliki standar kebaikan baik terhadap alam semesta dan juga terhadap  Allah subhanahu wataala.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [ar-Rûm/30:41]

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri [asy-Syûra/42:30]

Ketiga, musibah dipandang dari sisi syariah/hukum, adalah dimana suatu peristiwa musibah jika memiliki bukti yang cukup bahwa seseorang melakukan sesuatu yang menyebabkan orang lain tertimpa musibah ( kerugian ), maka pihak yang menyebakan musibah ( kerugian ) itu terjadi tentu wajib diproses secara hukum baik pendekatan pidana maupun perdata.

Pihak pelaku suatu peristiwa yang menyebakan terjadinya musibah ( kerugian ) baik personal, kelompok bahkan institusi sekalipun perlu diminta pertanggung jawabanya atas kelalaian, pembiaran dan kesengajaannya terkait dengan penyebab musibah ( kerugian ) itu terjadi.

Semoga setiap diri dapat mewaspadai atas setiap musibah yang mengancap. Akhirnya tentu kita doakan agar siapapun yang tertimpa musibah dapat bersabar, ikhlash serta tawaqqal kepada Allah Sang Maha pencipta. Amin

Koreksi dan saran silahkab melalui klik di bawah ini :

sakin_bina@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.