Ciri – ciri isteri solihah

.

Memiliki seorang isteri merupakan dambaan dari setiap laki – laki, namu tidak jarang setelah berumah tangga ternyata sang isteri menjadi menjadi penyebab seorang suami sering merasa kecewa yang menyebabkan ketidak nyamanan dalam menjalankan kehidupan sehari – hari.

Untuk menghindari kekecewaan suami yang disebabkan sikap dan prilaku seorang isteri, maka oleh karena itu Islam memberikan panduan bagi setiap wanita bagaimana menjadikan dirinya sebagai isteri yang sholihah.

Isteri yang sholehah merupakan sesuatu yang amat sangat berharga bagi seorang suami.

Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda :

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا ا رْملَْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Adapun indikasi yang seorang isteri yang sholihah juga begitu jelas dalam sabda nabi Sallallahu alahi wasallam, yaitu :

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرٍ مَا يَكْنِزُ ا رْملَْءُ، ا رْملَْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri salihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. )

فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ

“Wanita (istri) salihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (an-Nisa: 34)

Bahagian kebahagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan suami adalah isteri yang solihah. Sabda Nabi Sallallahu alaihi wasallam

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: ا رْملَْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَ المَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَ الَمرْكَبُ الْهَنِي؛ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ السّوءُ، وَا رْملَْأَةُ السُّوءُ، وَا رْملَكَبُ السُّوءُ، وَ المَسْكَنُ الضَّيِّقُ

“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang salihah, tempat tinggal yang luas/lapang, tetangga yang saleh, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak salihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam al-Mawarid hlm. 302 )

Disamping kebahagian yang demikian besar bagi seorang suami memiliki seorang isteri yang sholihah, maka suamipun memiliki peran dalam membentuk seorang isteri menjadi isteri yang sholihah. Adapun diantara peran suaminya, yaitu :

Kesolihan seorang suami

Suami yang sholeh merupakan teladan bagi keluarganya dalam bersikap dan berprilaku. karena itu seorang suami diperlukan kehati – hatian dalam berbicara, bersikap dan berprilaku di lingkungan keluarganya, karena akan sangat mempengaru mental dan karakteristik keluarganya.

Seorang sumi hendaknya dalam bersikap dan berprilaku selalu santun, beretika serta sesuai deangan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian isya Allah keluarganya akan harmonis atas pertolongan Allah subhanahu wataala.

Ketegasan

Ketegasan seorang suami sebagai imam ( pemimpin ) dalam menata kehidupan keluarganya merupakan pengaruh yang sangat besar bagi anggota keluarganya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka dari itu, wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’alaagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Surat An-Nisa’ Ayat 34

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda,

اَلْآنَ هَلَكَتِ الرِّجَالُ إِذَا أَطَاعَتِ النِّسَاءَ. هَلَكَتِ الرِّجَالُ إِذَا أَطَاعَتِ النِّسَاءَ . . . ثَلَاثًا

“Sekarang, celakalah kaum pria jika menaati kaum wanita, celakalah kaum pria jika menaati kaum wanita….” (Beliau menyabdakannya) tiga kali. (HR. Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil 1/38, Abu Nu’aim dalam Tarikh Ashbahan 2/34, dan al-Hakim 4/291; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam al-‘Irwa 2/227).

Beliau juga bersabda,

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً

“Tidak akan menang suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita.” (HSR. al-Bukhari dari Abu Bakrah z)

Jabatan pemimpin adalah amanat yang, tentu saja, harus diserahkan kepada ahlinya. Mayoritasnya, kaum pria lebih berhak mengemban amanat tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا

Sesungguhnya Allah memerintah kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. (al-Nisa’: 58)

Membiarkan seorang isteri membangkang terhadap suaminya karena isteri meras lebih baik daripada suaminya. Hal tersebut mendapat teguran dari Nabi Yang mulia Muhammad Sallalahu alaihi wasallam, dalam sabdanya.

أَنَّ أَبَا سَعِيْدٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ، فَإِنِّي أُرِيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ. فَقُلْنَ: لِمَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ. قُلْنَ: وَمَا نُقْصَانُ عَقْلِنَا وَدِيْنِنَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam keluar ke mushalla (lapangan shalat Id) untuk menunaikan shalat Idul Adha atau Idul Fitri. Tatkala melewati kaum wanita, beliau bersabda, ‘Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian! Sesungguhnya, telah diperlihatkan kepadaku bahwa kalian menjadi mayoritas penduduk neraka.’Mereka (kaum wanita) bertanya, ‘Mengapa demikian, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Kalian sering melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami. Aku tidak melihat kaum yang kurang akal dan agamanya, yang lebih mampu menghilangkan akal seorang pria—yang kokoh hatinya—daripada salah seorang dari kalian.’ Mereka bertanya lagi, ‘Apa yang dimaksud dengan kekurangan akal dan agama kami, wahai Rasulallah?’ Beliau bersabda, ‘Bukankah persaksian seorang wanita seperti separuh persaksian seorang pria? Mereka berkata, ‘Ya, benar.’ Beliau bersabda lagi, ‘Itulah yang menunjukkan kekurangan akalnya. Bukankah ketika haid, dia tidak shalat dan tidak puasa? Mereka berkata, ‘Ya, benar. Beliau bersabda, ‘Itulah yang menunjukkan kekurangan agamanya’.” (HR. al-Bukhari)

Bedasarkan dalil – dalil diatas, maka ketegasan seorang suami dalam mengatur keluarganya sangatlah penting. Ketegasan tidak bermaknan merendahkan, justru agar keharmonisan rumah tangga selalu terpelihara karena cahaya isteri yang solihah yang tidak pernah padam.

Andai isteri solihah umpama lampu penerang, maka sinarnya harus selalu terjaga agar tidak terhalang oleh keangkuhan, kesombongan dan melewati batas – batas kewajaran. Isteri agar tetap solihah haruslah dijaga dari berbagai godaan dan tipu daya dunia yang terkadang sangat membahayakan.

Kasih sayang

Isteri dan aggota keluarga mengharap kasih sayang dari sang suami selalu mengalir tak henti kepada kepada mereka dalam kondisi apapun juga.

Kebahagian keluarga atas dasar kasih sayang seorang kepala keluarga ( Suami ) tak terhingga begitu terasa, bahkan tidak dapat diukur dengan materi apapun juga.

     عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ … رواه الترمذي وغيره

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya” ( HR. At-Tirmidzi, 3/466;  Ahmad, 2/250 dan Ibnu Hibban, 9/483. Hadits dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani )

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan pergaulilah istrimu dengan (akhlak yang) baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak [An-Nisâ’/4:19]

Menasehati ke Jalan yang benar

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrim : 6]

Salah satu cara memilihara diri dan keluarga dari perbuatan tercela adalah menjarkan ilmu – ilmu agama. Bisa jadi seorang isteri belum begitu mengerti bagaimana ajaran agama yang harus mereka jalankan, ya mungkin kurang ilmu pengetahuannya. karena itu suami sangat penting memberikan pemaham tentang ilmu – ilmu agama, etika dan moralitas agar seorang isteri dapat menjalankan hidupnya sesuai kaidah – kaidah yang benar sebagaimana dititahkan Allah dan rasul-Nya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiat-lah kepada wanita dengan kebaikan.” 💝 💝  💝 💝  💝

Wallahu alam bissawab.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.