Mengenal Imam Bukhory

.

Sejarah Imam Bukhory

Nama asli Imam Bukhory adalah bernama Muhammad, putra dari Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi. Sang Imam dilahirkan pada hari Jum’at 13 Syawwal 194 H di wilayah Bukhara (Bukarest).

Ayah beliau bernama Ismail sudah meninggal dunia pada usia sang Imam masih kecil sehingga sang Imampun pada masa kecilnya diasuh oleh sang ibu.

Menurut cerita dari Ghinjar dan Al-Lalika’i bahwa ketika kecil kedua mata Bukhari buta. Lalu pada Suatu ketika ibunya bermimpi bahwa Nabi Ibrahim alaihissalam berbicara padanya, “Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada Allah subhanahu wataala.” Pada pagi hari sang Imam yang masih kecil telah dapat melihat secara baik. ( Hadyu Sari, hal. 640)

Sang Imam Bukhory merupakan salah seorang ulama besar penulis Hadits Shohih Bukhory

Sang Imam dididik dalam keluarga ulama yang terkenal taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti “al-Mubarak” dan “al-Waki”. Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya

bersambung ……………….

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.