Cara mensikapi musibah sesuai ajaran Islam

.

I.  Pengertian musibah

          Musibah berasal dari bahasa arab yaitu أصاب- يصيب- مصيبة  yang mana mempunyai banyak makna di antaranya: mengenai seperti perkataan الغرض  أصابyang berarti mengenai sasaran, ia juga mempunyai makna memperoleh atau mendapat seperti perkataan أصابته النعمة ” ” yang artinya ia memperoleh atau mendapatkan nikmat, ia juga berarti mengambil seperti perkataan أصاب من المالartinya ia mengambil sebagian dari harta. Di samping itu, ia juga berarti menimpa seperti perkataan أصابته المصيبة yang mana artinya musibah telah menimpanya. Adapun musibah yang berdampak negatif  yang didalam bahasa arab disebut dengan musibah bissyar

Di dalam al Qur’an terdapat beberapa ayat yang menggunakan kalimat musibah tentang suatu peristiwa yang negative ( peristiwa buruk ), diantaranya :

  1. Surat as Syȗra ayat 30

 وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Imam Jalaludin dalam tafsir Jalalain menerangkan : Dan apa saja yang telah menimpa kalian) khithab ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin (berupa musibah) berupa malapetaka dan kesengsaraan (maka adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri) artinya, sebab dosa-dosa yang telah kalian lakukan sendiri. Diungkapkan bahwa dosa-dosa tersebut dikerjakan oleh tangan mereka, hal ini mengingat, bahwa kebanyakan pekerjaan manusia itu dilakukan oleh tangan (dan Allah memaafkan sebagian besar) dari dosa-dosa tersebut, karena itu Dia tidak membalasnya. Dia Maha Mulia dari menduakalikan pembalasan-Nya di akhirat. Adapun mengenai musibah yang menimpa kepada orang-orang yang tidak berdosa di dunia, dimaksudkan untuk mengangkat derajatnya di akhirat kelak.

Dan Dalam kitab tafsir Almisbah, juga menjelaskan bahwa musibah apa saja yang menimpa diri kalian, dan yang tidak menyenangkan kalian, merupakan akibat oleh perbuatan maksiat kalian. Apa saja yang di dunia telah dimaafkan atau diberi hukuman, Allah terlalu suci untuk menghukum hal itu lagi di akhirat.

Dan juga terdapat penjelasan tentang ayat ini dalam kitab tafsir Al Maragi bahwa musibah-musibah di dunia yang menimpa manusia tidak lain sebagai hukuman atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan, kejahatan, serta kemaksiatan yang mereka kerjakan

  1. Surat al Qashas ayat 47:

وَلَوْلَا أَن تُصِيبَهُم مُّصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

  “Dan seandainya mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan oleh apa yang mereka kerjakan, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin”.

 Umat – umat yang terdahulu dari kalangan munafik dan musyrikin, ketika mereka ditimpa suatu musibah yang berdampak negatif, mereka mengelak kalau musibah yang menimpa mereka bukan karena kesalahan mereka sendiri, akan tetapi disebabkan ketak tahuan mereka atas keburukan yang mereka kerjakan. Prilaku buruk yang mereka lakukan tersebut disebabkan belum adanya utusan Allah yang merangkan baik dan buruk itu kepada mereka. Adapun yang sesungguhnya dihati mereka condong melawan kebenara yang datang dari Allah dan rasulya.

  1. Surat al Baqarah ayat 156

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

 “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Dalam tafsir Ibu katsir, pegertian ayat ini menjelaskan dimana orang – orang yang bersabar ketika medapatkan musibah, maka mereka mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala. Orang – orang yang beriman, mereka bersimpuh di hadapan Allah degan pengakuan bahwa diri mereka adalah milik Allah subhanahu wataala semata. Allah memperlakukan hamba-hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Lebih dari itu Allahpun akan memberikan imbalan kebaikan kepada hamba – hamba-Nya, sekalipun amal kebaika hamba-Nya itu hanya sebesar biji sawi.

Hadis yang diriwayatkan dari Ummu Salamah, ia bercerita pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “

«مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ راجِعُونَ اللَّهُمَّ أجرني في مصيبتي واخلف لي خيرا منها إلا آجره الله في مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا» قَالَتْ: فَلَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ: كَمَا أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Artinya: “Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan: innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya; melainkan Allah akan memberikan pahala kepadanya dalam musibah itu dan memberikan ganti kepadanya dengan yang lebih baik darinya.” Kata Ummu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal, maka aku mengucapkan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadaku, maka Allah Ta’ala memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah.” (HR. Muslim: 918)

II. Peyebab musibah  bissyar ( peristiwa buruk  )

       Secara garis besar terjadiya suatu musibah dapat dilihat dari dua sebab, yaitu :

  1. Musibah sebagai sunnatullah

Musibah yang terjadi memang pada azalinya telah termaktub pada lauh al mahfuzh, diatara Allah menjelaska dalam firman-Nya Surat al Hadid, ayat 22, ya’ni :

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.

       Suatu peristiwa yag terjadi di alam ini tidak ada yang tiba – tiba melaikan sudah diatur oleh Allah subhanahu wataala baik betukya suatu musibah, akibat dan hikmah yang terkandug padanya. Dimaa suatu apapun yang terjadi sudah dapat dipastikan tidak ada yang sia – sia di sisi Allah robbul izzati.

Pada ayat yang lain surat at taghabun, ayat 11, Allah subhanahu wata’ala menjelaskan :

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.

        Memahami pegertian firman Allah subhanahu wataala di atas, dalam tafsir almisbah menjelaskan bahwa Segala bencana yang menimpa manusia terjadi karena ketentuan Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah, maka kalbunya akan diberi petunjuk sehingga rela dengan apa yang telah terjadi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

  1. Musibah merupakan akibat dari kesalahan diri manusia

        Kesalahan manusia dalam menjalankan kehidupannya di alam dunia ini dapat dilihat dari dua betuk, yaitu :

  1. Kesalahan dalam beraqidah

        Kesalahan secara aqidah yaitu dimana manusia melepaskan dirinya dari ketetua Allah subhaahu wata’ala disebabkan kesombongan dan keangkuhannya.

Quran surat Al isra, ayat 83-84, menjelaskan, yaitu :

وَإِذَآ أَنۡعَمۡنَا عَلَى ٱلۡإِنسَـٰنِ أَعۡرَضَ وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ‌ۖ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ كَانَ يَـُٔوسً۬ا

Artinya : Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa

قُلۡ ڪُلٌّ۬ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَىٰ سَبِيلاً۬

Artinya : Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya [5] masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

Artinya : Dan apabila dikatakan kepadanya:”Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahanam. Dan sungguh neraka Jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. ( Q.S. Al baqoroh : 206 )

        Dalam ayat di atas meeragkan bahwa dimaa manusia degan kesombonganya mereka tidak mentaati Allah subhanahu wataala yang memilik hak untuk menentukan sesuatu yang terajadi di alam semesta ini. Manusia – manusia yang mengingkari wujud dan kebedak Allah, merasa bahwa mereka dapat menentukan jalan hidupya dan segala sesuatu dalam kehidupannya dapat mereka rekayasa sendiri, sekalipun pada kenyataannya mereka semuaya berjalan dibawah taqdirnya Allah subahanahu wataala.

  1. Kesalahan dalam berprilaku

        Manusia – manusia yang hanya berorietasi pada duia semata, maka seluruh prilaku mereka diukur dari keuntunga duniawi tapa memperhitugkan kerugian pihak – pihak lainnya dan tidak mereka dalam berprilaku tidak berdasarkan akhlak mulia yag diajarkan quran dan hadits – hadits shohih

        Kebenaran dalam berprilaku selalu didasarkan pada akal mereka semata, lebih dari itu adalah mereka memiliki pemikiran yang bersifat parsial dan primordial.

         Alquranul karim menjelaska tentang prilaku mereka – mereka yang dimaksud dalam paparan diatas, diataraya surat albaqorah ayat :11 – 12

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ (١١) أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَـٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ (١٢

Artinya : Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi [5], mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (11) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (12)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (ar-rum, ayat : 41)

        Dalam firman Allah subhanahu wataala di atas,  dijelaskan bahwa semua kerusakan ( musibah bi asyar ) yang terjadi di alam ini dalam berbagai bentuk malapetaka merupakan akibat dari prilaku buruk dan maksiat yang dilakukan oleh manusia. Sehingga tidak salah kalau dikatakan bahwa prilaku maksiat sebagai penyebab utama kerusakan dan musibah yang sesungguhnya.

        Imam asy-Syaukâni rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan, dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirik dan maksiat adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta

III. Sikap menghadapi musibah bissyar

         Dalam menghadapi suatu musibah yang berdampak buruk dalam bentuk apapun, maka bagi seorang yang mukmin dapat mensikapi dengan beberapa cara, yaitu :

  1. Al Istirja’

        Yang dimaksud dengan Istirja’ adalah mengembalikan setiap peristiwa yang terjadi kepada Sang Kholiq Allah subhanahu wata’ala, dimana terjadinya sesuatu ataupun tidak terjadinya sesuatu merupakan kehendak Allah dan segalanya hanya Dia yang mengaturya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

 “sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.  (al-Baqarah: 155 – 156)

  1. Sabar

         Sabar merupakan salah satu sumber kekuatan dari dalam diri seseorang  yang memiliki kemampua untuk mengontrol emosional dalam menghadapi suatu cobaan atau musibah yang menimpanya. Allah subahanahu wataala berfirman :

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيرًا وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan”. (Ali Imran: 186)

  1. Tawakkal

       Tawakkal, ya’ni serahkan segala sesuatuya haya kepada Allah subhanahu wata’ala sebagai penentu segala urusan hamba-Nya.

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللّهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”. (at-Taubah: 51)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya : “Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya” (HR. Muslim)

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ

Artinya : “Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR.Tirmidzi, hasan shahih)

  1. Memperbaiki kesalahan

          Suatu peristiwa adalah merupaka ujian dari Allah robbul izzati, maka ujian tersebut dilalui degan mengoreksi prilaku yang tidak baik serta meingkatkan prilaku baik sesuai degan kaidah amar ma’ruf nahi munkar.

Sebagaimana Allah Swt berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya : “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,. yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampunan”. (al-Mulk: 1-2)

         Memperbaiki kesalahan dalam berprilaku dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan, baik aspek dalam beragama, berpolitik, ekonomi, sosial dan budaya. Idetifikasi tetang peyebab dari suatu musibah sangat penting utuk dilakukan oleh semua pihak sesuai dengan kewenangannya masing – masing baik itu secara kelembagaan, peroragan maupun profesi sosial seseorang.

        Melakukan identifikasi peyebab dari terjadinya suatu persoalan diperlukan utuk mengetahui cara keluar dari dari suatu persoala secara tepat da benar. Dengan demikian suatu persoalan yang sedang dialami dapat segera ditemukan solusinya.

         Apabila suatu persoalan ( musibah bi asyar ) telah dapat diidentifikasi peyebabya, maka dapat segera ditidak lanjuti untuk mengambil langkah – langkah yang bersifat solutif. Disamping itu juga dapat dijadika seabagai dasar pencegahan agar musibah yang sedang menimpa dapat  semakin berbahaya dan tidak berefek buruk pada lainya.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

(QS al-Anfal [8]: 25)

  1. Berdoa

         Doa berasal dari bahasa Arab yang artinya: panggilan, mengundang, permintaan, permohonan, doa, dan sebagainya. 5 Berdoa artinya menyeru, memanggil, atau memohon pertolongan kepada Allah SWT atas segala sesuatu yang diinginkan. Seruan kepada Allah SWT itu bisa dalam bentuk ucapan tasbih (Subhanallah), Pujian (Alhamdulillah), istighfar (astaghfirullah) atau memohon perlindungan (A`udzubillah), dan sebagainya

         Doa merupakan salah astu betuk ibadah kepada Allah subahanu wataala. Disampig itu doa juga merupakan permohonan perlindungan seorang hamba kepada sang Kholikya yang mengatur kehendak dan atqdir atas segala peristiwa didunia dan akhirat.

وَقَالَ رَبُّڪُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya : Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku ( Q.S.40, ayat 1 )

        Dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala membuka kesempatan kepada setiap hamba-nya untuk memita kepada-Nya apa saja yag diiginkan hamba-hamaba-Nya, meliputi kemudahan rizki, kenyamanan, keamanana, keselamatan, kesehatan, terhindar dari musibah dan hidup dalam kebahagiaan.

         Adapun bagi manusia – manusia yang memiliki kesombogan dalam diri mereka, maka berdoa tidak akan dijadikan bahagian dari cara hidupnya. Dengan kesombongannya itu akan terus berjalan dalam pengingkaran dan sesungguhnya mereka dalam keadaan menderita dan sakit, sekalipun mereka tidak menyadarinya

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡ‌ۖ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَـٰرِهِمۡ غِشَـٰوَةٌ۬‌ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ

فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ۬ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضً۬ا‌ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ

Artinya :

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka [1] dan penglihatan mereka ditutup [2]. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih

Salah satu doa yang dapat dibaca untuk menghindari kemudhoratan ( musibah bi asyar ), adalah sebagai berikut :

رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَتَا لَنَا بِهِ, وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَ نَا فَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَا فِرِيْنَ

Rabbana wa la tuhammilna ma la thaqata lana bihi wa’fu ‘anna waghfirlana warhamna anta maulana fanshurna ‘ala-qaumil-kafirin.

“Ya Allah Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan atas diri kami apa yang diluar kesanggupan kami. Ampunilah dan limpahkanlah rahmat ampunan terhadap diri kami. Ya Allah Tuhan kami, berilah kami pertolongan untuk melawan orang yang tidak suka kepada agama-Mu” (QS. Al-Baqarah [2]:286)

أَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَلْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ اْلمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ضَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ, مِنْ بَلَدِنَاخَآصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً, إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرِ. غَفَرَ اللهُ لَنَ وَلَهُمْ, بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Allahummaadfa’ “annal-ghala a wal bala a wal waba a wal fahsya a wal-munkara was-suyufal-mukhtalifata wasy-syadaida wal-mihana ma zhahara minha wa ma bathan min baladina khashsatan wa mil buldanil-muslimina’ammatan, innaka ‘ala kulli syai’in qadir. Ghafarallahu lana wa lahum birahmatika ya arhamar-rahimin.

“Ya Allah yang menghilangkan segala penderitaan dan kesengsaraan, cobaan, kesusahan, kejelekan, kemungkaran, kekeliruan yang bermacam-macam, kesedihan, cobaan yang tanmpak serta cobaan yang tidak tampak dari negeri kami khususnya, dan umummnya dari negeri-negeri orang Muslim, sesungguhnya Engkau Ya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah memberikan ampunan bagi kami dan mereka semua dengan rahmat-Mu Ya Allah, wahai Zat Yang Maha Belas Ksih.”

Penulis : Ustaz. H. Teungku Marzuki Abdurrasyid

Publikasi artikel ini, atas dukungan ” Lembaga Donatur ” ▶Klik lihat

SUARA PEMBACA
[contact-form-7 404 "Not Found"]